bu Dian yth,
memang dunia pendidikan arsite di indonesia ini cukup membingungkan..
ada semacam tendensi, se-olah-2 arsitek adalah "superman" yang bisa mengatasi segala..
kalau memang dibekali demikian ok lah, nggak apa-2..
tapi hal tersebut ditanamkan, dengan "urang" memberi bekal, kalau tidak disebut "nyaris tanpa bekal untuk berparaktek di dunia nyata"....
selalu yang ditekankan adalah gegap gempita si arsitek top, extravaganza bangunannya...
tapi kasus seperti Gehty yang didenda karena salah dalam dokumen kerja, nyaris tidak terbahas..... entah karena tidak paham (hanya akademisi dan teoritis) atau "tanggung jawab profesi" tidak dipandang hal yang urgent dan perlu

dari pengalaman saya menangani beberapa bangunan publik / komersial, saya akhirnya mengerti, bahwa arsitek, harus dan wajib bekerja-sama dengan berbagai disiplin ilmu yang spesifik... bekerja sama dengan berbagai institusi lain...
suatu contoh..
1. mall, ternyata konsep bukan dibuat arsitek, tapi dibuat oleh bagian marketing..
arsitek menterjemahkan konsep tersebut agar "match" dengan konsep penjualan, dan juga selaras dg pola "building operational management" (ergantung operator mana)....
selain itu, masih harus bekerja sama dengan berbagai institusi lain, entah finansial, ahli lingkungan, transportasi, dll..dll...
2. airport, ternyata harus selaras dengan sistem operasional, dan terlebih saat ini - dimana ancaman teroris telah mendunia - faktor safety menjadi prioritas nomor 1, 2 dan 3...arsitek juga wajib memahami tipe-2 pesawat yang lagi "mode", akan menjadi "mode", dll....
arsitek wajib menselaraskan sistem safety / prosedur pengamanan ala "lokal" dg sistem TSA, yang digunakan sbg standar audit international airport.. karena kalau tidak lulus, dinyatakan sebagai airport "tidaklayak untuk penerbangan internasional" (padahal dimaksudkan untuk itu) tentu kerugiaan yang akan diderita sulit dikalkulasi lagi...
3. saat ini, di indo sendiri banyak pola investasi dengan sistem BOT (Build, Operate, Transfer), dimana developer dalam sekian puluh tahun, akan mengembalikan seluruh investasinya ke pemerintah, selain bangunan, peralatan, termasuk SDM nya juga - dan sistem manajemen operasionalnya sekaligus..
hal ini menuntut seorang arsitek memahami feseability study, proses dan sistem konstruksi yang hemat waktu tanpa mengurangi kualitas, pemakaian bahan yang optimal, sistem operasional yang efisien (al, BAS - Buildig Automated System), perlatan yang bisa integrated, dan addresibel, aksesibel dengan sistem yang dipakai..
juga wajib memahami proses investasi, pentahapan pembangunan, kapan saat dijual, kapan saat operasional, agar pengembalian investasi, sesuai dengan rencana jangka panjang developer yang sudah disetujui oleh Bank Pendukung...
itu hanya sekelumit contoh yang signifikan, yang sering dilupakan - bahkan oleh arsitek terkenal sekalipun..
di surabaya sendiri, sudah ada bbeberapa contoh bangunan yang "bisa dikatakan salah disain", hingga recana ROI developer boleh dkata "gagal total" (tidak laku, karena disain "salah pakem", bahkan kalau mengacu ke textbook !!!)..
ada juga bangunan yang sangat tidak efisien, tidak mem "provide" akan kebutuhan pengunjung, sehingga ketika ada pemasangan ATM (yang saat ini merupakan salah 1 kebutuhan absolut di bangunan komersial) - membuat tampilan bangunan jadi "aneh"..
dan bangunan ybs ternyata juga jurang memperhitungkan soal "fesh air sipply" - pengunjung yang perkir di basement 2 akan merasa "tercekik" karena kurang oksigen...
ini suatu kenyataan, bukan hikayat dongeng..
saya memang tidak mungkin menunjuk langsung di sini, karena justru oleh arsitek beken...
nah, yang saya tahu, justru arsitek ybs sering diundang memberikan "ceramah ilmiah", share pegalaman di berbagai universitas / lembaga pendidikan arsitektur yang beken..
lha mau jadi apa yang di beri "ceramah ilmiah" dan Share dari kualifikasi semacam itu

?
beda benar dengan apa yang di alami oleh seorang gehry, di atas....