AWARDING NIGHT SAYEMBARA KANTOR WALIKOTA GORONTALO 2026, Juara Utama Sayembara 2026 Tawarkan Visi Baru Kantor Wali Kota Gorontalo

Dengan diumumkannya hasil penjurian tahap 2 pada awarding night 16 Mei 2026 bertempat di ballroom aston hotel, seluruh rangkaian kegiatan Sayembara Kantor Wali Kota Gorontalo 2026 dinyatakan selesai. Sayembara ini ditutup dengan diumumkannya tim SKWG 0049 dengan judul Sumbu Bahtera Demokrasi sebagai pemenang utama.
Awarding night yang hadiri oleh wakil wali kota Gorontalo, sekretaris daerah kota Gorontalo, ketua DPRD kota Gorontalo, dinas PUPR kota Gorontalo, tim ahli, Pengurus & anggota IAI Gorontalo juga seluruh jajaran pemerintah kota Gorontalo berlangsung meriah. Pada sambutannya wakil wali kota Gorontalo, Indra Gobel memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta baik kepada 3 nominator yang menghadiri langsung kegiatan awarding night juga kepada seluruh peserta yang telah mengirimkan karya pada perhelatan sayembara ini.
Sayembara kantor walikota Gorontalo merupakan jalinan kerja sama pemerintah kota Gorontalo dan Ikatan Arsitek Indonesia Gorontalo sebagai pemrakarsa dan panitia pelaksana kegiatan. Sayembara ini bertujuan tak hanya untuk mencari ikon kantor walikota yang monumental semata, namun menjadi momen penting untuk memberikan keragaman pada khazanah arsitektur Gorontalo serta menjadi ajang untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Gorontalo pada masyarakat luas melalui peserta sayembara yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia.
Yuk intip lebih detail konsep dari para pemenang
Sumbu Bahtera Demokrasi

Nilai maritim, budaya, dan spiritual Serambi Madinah yang berlandaskan prinsip adat bersendikan syariat dan syariat bersendikan Kitab Allah melatarbelakangi konsep Sumbu Bahtera Demokrasi. Konsep ini memaknai kantor walikota sebagai pelabuhan kemanusiaan, dengan pemerintah sebagai nahkoda yang mengarahkan pembangunan menuju masa depan berkelanjutan beridentitas maritim dan budaya lokal. Bangunan kantor walikota dirancang menyerupai dermaga utama yang kokoh, terbuka, dan mengayomi sebagai simbol kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat serta mendorong kehidupan religius dan beradab. Sumbu utama kemudian mengarah ke Gedung MICE berbentuk bahtera, yang dimaknai sebagai simbol perjalanan manusia dan alam menuju masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan religius.
Perancangan gedung walikota Gorontalo menerapkan tiga prinsip utama, yakni: Pertama, Spatial through local identity melalui motif batik karawo pada plaza dan secondary skin, atap terinspirasi Bantayo Poboide, struktur panggung, serta bentuk Gedung MICE yang mengadopsi bentuk bahtera sebagai simbol budaya maritim.
Kedua, Community inclusivity and democratic axis diwujudkan melalui plaza ekonomi kreatif sebagai ruang aktivitas ekonomi dan budaya masyarakat, serta sumbu demokrasi yang menghubungkan gedung walikota dan plaza sebagai simbol keterbukaan pemerintah dan masyarakat.

Ketiga, Sustainable design strategies diterapkan melalui rainwater harvesting, zero run off management, solar panel, passive cooling pond, material daur ulang, pencahayaan dan penghawaan alami, serta integrated security system. Secara keseluruhan konsep perancangan gedung walikota Gorontalo terintegrasi pada prinsip berkelanjutan yakni socio-cultural, socio-economy, management, dan environmental.

